Dari Aplikasi hingga Integrasi Layanan, TIPD UIN Syahada Studi Komparatif ke UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta — Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (UPT TIPD) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan melakukan studi komparatif ke UPT Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Marsda Adisucipto, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah UIN SYAHADA untuk mempelajari pengembangan aplikasi, integrasi sistem informasi, pengelolaan data, serta tata kelola layanan digital perguruan tinggi. Kunjungan tersebut diwakili oleh Kepala UPT TIPD UIN Syahada, Candra Adi Putra, S.Kom., dan disambut langsung oleh Kepala UPT PTIPD UIN Sunan Kalijaga, Siti Mutmainah, S.Kom., M.Cs., Ph.D. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat PTIPD dalam suasana diskusi dan berbagi pengalaman mengenai bagaimana teknologi informasi dikembangkan untuk mendukung kebutuhan universitas.


Belajar dari Pengembangan Aplikasi UIN Sunan Kalijaga
Salah satu perhatian utama dalam studi komparatif ini adalah pengalaman PTIPD UIN Sunan Kalijaga dalam membangun berbagai aplikasi secara mandiri dan mengintegrasikannya dalam ekosistem teknologi informasi universitas. Informasi resmi PTIPD mencatat bahwa berdasarkan Rencana Induk Pengembangan PTIPD periode 2015–2019 dengan konsep paperless, UIN Sunan Kalijaga telah mengembangkan sejumlah aplikasi terintegrasi, di antaranya Sistem Persuratan, Sistem Kepegawaian, serta Sistem Kinerja Dosen dan Tenaga Kependidikan. Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa fungsi unit teknologi informasi tidak hanya menyediakan infrastruktur jaringan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun aplikasi yang digunakan langsung oleh sivitas akademika.
PTIPD UIN Sunan Kalijaga sendiri memiliki tugas mengelola dan mengembangkan sistem informasi manajemen, aplikasi, basis data, jaringan, serta teknologi lainnya.Bagi UIN Syahada, pengalaman tersebut menjadi referensi penting untuk mengembangkan aplikasi yang tidak berdiri sendiri, tetapi dirancang agar dapat saling terhubung dan menggunakan sumber data yang sama. Bukan hanya aplikasi, namun integrasi Jaringan Kampus UIN Sunan kalijaga sudah mendukung single Sign On berbasis LDAP sehingga memudahkan integrasi layanan Wifi yang sama di seluruh gedung Perkuliahan dan Perkantoran.
Dari Aplikasi Terpisah Menuju Ekosistem Terintegrasi
Pengembangan sistem informasi perguruan tinggi menghadapi tantangan yang sama: semakin banyak aplikasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap integrasi data.Karena itu, salah satu pembelajaran penting dari UIN Sunan Kalijaga adalah bagaimana berbagai layanan dapat dibangun dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi. Pendekatan ini dapat mengurangi penginputan data berulang dan memungkinkan satu data dimanfaatkan oleh berbagai aplikasi.
Konsep tersebut sangat relevan untuk pengembangan layanan digital UIN Syahada, terutama dalam mengintegrasikan data mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, akademik, kepegawaian, persuratan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga layanan pimpinan.Dengan integrasi tersebut, aplikasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat administrasi, tetapi menjadi infrastruktur digital universitas yang menyediakan data secara cepat untuk kebutuhan layanan maupun pengambilan keputusan. pengembangan aplikasi di UIN Syahada dapat diarahkan sejak awal menggunakan arsitektur yang memungkinkan integrasi antarsistem, API, single sign-on, pengelolaan basis data terpusat, serta dashboard yang dapat digunakan pimpinan untuk memperoleh informasi secara real time.
Pengalaman UIN Sunan Kalijaga dalam Layanan Berskala Besar
Dari pengalaman PTIPD UIN Sunan Kalijaga, terdapat sejumlah model layanan digital yang relevan untuk menjadi referensi pengembangan aplikasi di UIN Syahada.Di antaranya adalah sistem persuratan digital, layanan pembelajaran digital, hingga sistem pendukung administrasi universitas.
Kemampuan PTIPD dalam mengelola layanan digital juga terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai kegiatan berskala besar.Dalam pelaksanaan UM-PTKIN, misalnya, PTIPD UIN Sunan Kalijaga menyiapkan laboratorium, infrastruktur, jaringan, sumber daya manusia dan dukungan akses kegiatan. Pelaksanaan ujian menggunakan CAT Untuk UMPTKIN saja melayani 6000 lebih calon mahasiswa yang ikut ujian. Jumlah ini enam kali lipat lebih besar di banding UIN SYAHADA Padangsidimpuan.
PTIPD UIN Sunan Kalijaga juga memiliki pengalaman mendukung berbagai kegiatan digital yang membutuhkan kesiapan aplikasi dan infrastruktur secara bersamaan. Misalnya saat ini UIN Sunan Kalijga mengelola 6 GB Bandwidth yang dibagi keseluruh gedung dengan sistem Distribuasi bandwidh yang di kelola secara modern. Pengalaman tersebut menjadi relevan bagi UIN Syahada yang juga menyelenggarakan berbagai kegiatan digital berskala besar seperti penerimaan mahasiswa baru, ujian berbasis komputer, layanan akademik, serta pelaporan pendidikan tinggi.
Hal yang paling penting adalah adanya backup Server (Backup and Recovery) yang sudah otomatis di lakukan oleh sistem. Otomatisasi ini belum di lakukan Oleh UIN SYAHADA sehingga perlu dianggarkan agar backup otomatis bisa di integrasikan dengan semua website dan sistem informasi kritis seperti SIAKAD untuk menghindari kehilangan data. manfaat lain dari Backup otomatis ini adalah ketiga migrasi server atau perlu recovery data, bisa dilakukan dengan cepat.
UIN SYADA Perlu membuat Blueprint Pengembangan Aplikasi Terintegrasi
Kepala UPT TIPD UIN SYAHADA, Candra Adi Putra, S.Kom., menilai pengalaman PTIPD UIN Sunan Kalijaga memberikan banyak referensi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Studi komparatif ini tidak diarahkan untuk menyalin sama persis sistem IT UIN Sunan Kalijaga, tetapi untuk mempelajari pola pengembangan, arsitektur sistem, tata kelola data, mekanisme integrasi dan pengelolaan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan karakteristik UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary padangsidimpuan.
UIN Syahada membutuhkan sistem informasi yang tidak hanya mampu menyelesaikan kebutuhan administrasi saat ini, tetapi juga memiliki fondasi teknologi yang dapat dikembangkan dalam jangka 5 sampai 10 tahun kedepan. Melalui studi komparatif ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan aplikasi internal, meningkatkan integrasi data, mengurangi proses administrasi manual, serta menghadirkan layanan digital yang lebih mudah, cepat dan terukur bagi seluruh sivitas akademika.