TIPD Kaji Teknologi Jaringan Modern UNRI Dalam Acara Ruiji Education Tour 2026
Pekanbaru, 27 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi jaringan kampus terus bergerak menuju infrastruktur yang lebih cepat, sederhana, terintegrasi, dan mampu mendukung layanan digital dalam skala besar. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Ruijie Education Tour 2026 yang digelar di Universitas Riau (UNRI), Pekanbaru, Kamis, 27 Agustus 2026. Mengusung tema “The Digital Backbone of Societal Impact: How Optical Innovation Powers UNRI’s Broader Mission”, kegiatan ini mempertemukan Universitas Riau dan Ruijie Networks untuk membahas transformasi infrastruktur digital kampus, khususnya pengembangan jaringan berbasis teknologi optik dan konsep Smart Campus.
Dalam kegiatan tersebut, UPT Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary ( turut hadir melalui Salli Winardi Rambe sebagai perwakilan UIN Syahada. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya UIN Syahada untuk mempelajari perkembangan teknologi jaringan yang telah diterapkan di perguruan tinggi lain dan melihat peluang penerapannya di lingkungan UIN Syahada. Dari pihak UNRI, kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Hj. Sri Indarti, S.E., M.Si., Rektor Universitas Riau, serta Ibnu Daqiqil Id, S.Kom., M.T.I., Ph.D., Kepala UPA TIK Universitas Riau yang memaparkan pengalaman UNRI dalam melakukan revitalisasi infrastruktur teknologi informasi dan membangun fondasi Smart Campus.
UNRI Beralih ke Jaringan Berbasis Serat Optik
Salah satu hal utama yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah penerapan Simplified Optical Ethernet (SOE) sebagai bagian dari revitalisasi jaringan UNRI. Dalam presentasinya, UNRI menjelaskan bahwa kebutuhan layanan digital yang semakin besar membuat jaringan konvensional menghadapi sejumlah tantangan. Penggunaan Wi-Fi generasi baru, video, AI, IoT, XR, layanan akademik digital, hingga aktivitas penelitian membutuhkan bandwidth besar dan koneksi dengan latensi yang konsisten. UNRI kemudian melakukan revitalisasi jaringan dengan mengganti seluruh kabel fiber optic (FO) yang telah berusia lebih dari 23 tahun, sekaligus membangun infrastruktur jaringan berskala enterprise dan menerapkan sistem managed service.
Teknologi SOE yang diperkenalkan Ruijie membawa konsep fiber-to-the-room (FTTR), yaitu membawa serat optik lebih dekat hingga ke ruang kelas, laboratorium, asrama, kantor, maupun titik layanan lainnya. Arsitektur ini tetap menggunakan Ethernet sebagai protokol yang familiar, tetapi distribusi jaringannya memanfaatkan infrastruktur optik. Dengan arsitektur tersebut, jaringan kampus tidak lagi bergantung pada banyak switch aktif di setiap lantai. Distribusi dapat dilakukan melalui jaringan optik pasif sebelum koneksi diteruskan ke perangkat jaringan di ruangan. Pendekatan ini diharapkan dapat menyederhanakan arsitektur jaringan sekaligus mengurangi kompleksitas operasional dan pemeliharaan.
CWDM, Teknologi Optik yang Menjadi Pembeda
Teknologi lain yang menarik perhatian dalam implementasi tersebut adalah CWDM (Coarse Wavelength Division Multiplexing). Melalui CWDM, beberapa kanal atau wavelength dapat berjalan secara paralel pada satu serat optik. Dalam materi UNRI dan Ruijie, teknologi ini menjadi bagian penting dari arsitektur SOE karena memungkinkan kapasitas transmisi yang tinggi tanpa menggunakan mekanisme pembagian time slot seperti pada PON.
Materi tersebut juga menyebutkan klaim Ruijie bahwa konfigurasi SOE 3.X dapat menyediakan hingga 80G bandwidth unidirectional per fiber, dengan efisiensi transmisi hingga 8 kali dibandingkan PON pada skenario yang dipaparkan. Angka tersebut merupakan klaim teknologi yang disampaikan dalam materi Ruijie.
Bukan Sekadar Jaringan, tetapi Fondasi Smart Campus
Transformasi yang dilakukan UNRI tidak berhenti pada penggantian perangkat dan kabel. Infrastruktur jaringan ditempatkan sebagai fondasi utama Smart Campus, yang mencakup empat lapisan penting: infrastructure, trust, intelligence, dan experience. Infrastruktur mencakup fiber backbone, switching, komputasi, cloud, dan sumber daya pendukung. Di atasnya terdapat aspek keamanan dan identitas, kemudian kemampuan monitoring, analitik dan otomasi, hingga pengalaman pengguna seperti Wi-Fi kelas, roaming, pembelajaran hybrid, dan layanan digital.
UNRI juga memperkenalkan Ruijie WiS Cloud sebagai platform pengelolaan jaringan. Platform ini memungkinkan WLAN, LAN, dan WAN dipantau melalui satu pusat kendali serta memanfaatkan big data, cloud, dan AI untuk membantu optimasi, diagnosis gangguan, dan pengelolaan siklus hidup jaringan. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan jaringan diarahkan dari pola yang bersifat reaktif menuju operasi jaringan yang lebih cerdas dan prediktif.
UIN Melihat Peluang Penerapan
Salli Winardi Rambe S.Kom hadir dengan fokus mempelajari teknologi jaringan terbaru, khususnya arsitektur jaringan berbasis fiber optic, SOE, FTTR, CWDM, serta sistem manajemen jaringan terpusat yang diterapkan di UNRI.Bagi UIN Syahada, kehadiran perwakilan TIPD dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana teknologi jaringan generasi baru diterapkan pada lingkungan perguruan tinggi.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi UIN Syahada dalam merancang pengembangan infrastruktur jaringan kampus ke depan.Hal ini sejalan dengan arahan pimpinan UIN Syahada untuk terus mendorong digitalisasi kampus, sehingga pengembangan teknologi informasi tidak hanya berorientasi pada penambahan perangkat, tetapi juga membangun fondasi infrastruktur yang mampu menopang layanan akademik, administrasi, pembelajaran, penelitian, dan layanan digital lainnya secara berkelanjutan.
Ke depan, UIN Syahada diharapkan dapat mengkaji kemungkinan penerapan teknologi serupa dengan menyesuaikan kebutuhan, kondisi infrastruktur, dan kemampuan anggaran kampus. Teknologi SOE, FTTR, CWDM maupun pengelolaan jaringan berbasis cloud dapat menjadi salah satu referensi dalam membangun jaringan kampus yang lebih sederhana, berkapasitas tinggi, mudah dikelola, dan siap mendukung transformasi menuju Smart Campus.
Dengan demikian, kunjungan dan keikutsertaan dalam Ruijie Education Tour 2026 tidak hanya menjadi agenda studi teknologi, tetapi juga bagian dari langkah UIN untuk melihat bagaimana infrastruktur jaringan dapat menjadi tulang punggung digitalisasi kampus di masa mendatang.